Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

bakuL iLmu

Homebakul ilmu adalahFeb 1, 2007
hitam putih kisah perjalanan hidup seorang pencari ilmu

Blog EntryJan 24, '12 8:45 AM
for everyone

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Clifford Geertz (1973) bahwa menjadi manusia berarti menjadi individual, menjadi sesuatu diri yang partikular. Kita menjadi seorang individu dibawah pedoman pola budaya yang secara historis menciptakan sistem pemaknaan yang memberi bentuk, perintah, petunjuk atas tujuan hidup kita. Dalam hal ini saya terbentuk di bawah konstruksi dua budaya Jawa yang berbeda, Jawa kromo (halus) dan Jawa ngoko (kasar). Dua Jawa itu mengalir dalam diri saya, yang halus saya dapatkan dari leluhur ayah saya, keluarga penghulu agama keraton Solo yang hijrah ke Surabaya pada akhir abad ke-19 Masehi; sedangkan yang kasar saya dapatkan dari leluhur ibu saya yang dapat dianggap sebagai warga asli kampung Surabaya.

Sejak kecil saya tumbuh dalam lingkungan Surabaya yang menurut klasifikasi Geertz (1981) adalah abangan dengan bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa ngoko, meskipun ajaran santri dan tutur bahasa Jawa Kromo Inggil juga sempat saya dapatkan dari ajaran yang disampaikan oleh nenek dari ayah saya. Ketika saya lahir, saya tak sempat lagi menyaksikan kakek-nenek dari Ibu saya, meskipun demikian kedekatan saya dengan Ibu telah menularkan dengan baik budaya ngoko ala Jawa Timuran dalam diri saya. Pada saat yang sama saya juga berhubungan dekat dengan nenek dari pihak ayah, beliau yang mengajari saya mengaji, membiasakan saya untuk berbicara dengan bahasa Jawa Kromo Inggil ala Mataraman, dan menemani saya belajar baca-tulis sewaktu Sekolah Dasar.

Dua budaya Jawa itulah, yang saya rasa hingga saat ini masih mengalir dalam diri saya. Saya mempunyai kemampuan untuk berperilaku ganda, halus dan kasar, ngoko dan kromo. Ada dua elan dalam diri saya, elan Jawa Timuran yang lugas dan berapi-api pada satu sisi, dan elan Mataraman yang tenang dan teratur pada sisi yang lain. Mulanya saya tak memahami betul, budaya apa yang mengalir dalam  diri saya itu, baru akhir-akhir ini saya mulai mereka-reka siapakah saya, manusia dengan budaya apakah saya ini? Dengan pertanyaan itu, saya mencoba kembali kepada Geertz (1973) yang berpendapat bahwa untuk memahami bagaimana “menjadi manusia” diperlukan penghayatan yang penuh atas nilai-nilai budayanya sendiri. Melalui penghayatan semacam itu seorang Jawa akan mengatakan bahwa “menjadi manusia adalah menjadi Jawa”. Sehingga pada fase-fase tertentu kehidupan seorang manusia, belum dikatakan sempurna sebagai Jawa (durung Jowo) ketika ia belum sepenuhnya dapat melakukan atau memahami apa-apa yang terdapat dalam khazanah budaya Jawa.  

Lalu apakah saya telah memahami Jawa sepenuhnya? entahlah. Kiranya pemahaman atas ke Jawaan saya itu akan terus berproses, seiring dengan proses unsur Jawa mana yang nantinya kana tergerus dalam diri saya, yang halus atau yang kasar? atau dua-duanya akan tetap bersemayam hingga saat saya mati nanti.

Merujuk dari apa yang saya rasakan itu, adalah masuk akal jika suatu sistem budaya bisa diturunkan dalam suatu bagian-bagian yang lebih kecil lagi dari suatu bentuk dan isi dari kebudayaan yang lebih besar. Hal itu Durham (2002) sebutkan sebagai unit budaya, varian budaya atau item budaya. Meskipun saya tidak merasa bahwa budaya yang saya anut saat  ini dapat merepresentasikan suatu populasi tertentu dari masyarakat Jawa, atau bahkan dari keluarga saya sekalipun. Budaya bagi saya dapat menjadi representasi dan makna dari suatu populasi hanya suatu frekuensi yang akan berubah-ubah setiap saat sesuai dengan perkembangannya dalam suatu kelompok masyarakat tertentu.

Terkait dengan variasi ini saya lebih suka merujuk kepada Barth (2002) yang berpendapat bahwa suatu variasi terjadi ketika si pelaku membentuk perilaku kelompok yang berbeda dengan kategori kelompok yang ada, sehingga akhirnya ia membuat kategori yang sesuai dengan sasaran hidupnya. Barth juga mengatakan bahwa orang dikelompokan sesuai dengan perbuatannya, dan sangat dipengaruhi oleh interaksi, bukan pemikiran. Untuk memperlihatkan hubungan antara ciri etnik dan keragaman budaya, ia terutama akan memperlihatkan bagaimana berbagai pengelompokan dan orientasi nilai dalam berbagai kondisi ini membentuk karakternya sendiri, dan bagaimana pengelompokan lain berubah akibat pengalaman, dan yang lainnya tidak mampu membentuk interaksi. Jadi sebenarnya variasi itu tercipta dalam proses interaksi itu sendiri.

Itulah saya, saya berusaha untuk membuat kategori baru dalam kehidupan ini. Secara berlebihan mungkin ingin saya katakana bahwa saya akan menciptakan Jawa yang ala aku, Islam yang ala aku, sistem kekerabatan, sistem politik dan seterusnya yang ala aku. Dan kategori baru itu akan terlahir dari proses interaksi saya dengan berbagai kebudayaan di luar diri saya. Saya akan terus mendialektika-kan dua Jawa yang terkandung dalam diri saya dengan berbagai kebudayaan yang muncul di hadapan saya. Sehingga akan muncul suatu sintesa, berupa kategori baru atas diri saya.

Menyadari bahwa diri saya adalah diri yang partikular, diri yang berbeda dari diri yang lainnya, maka saya pun selalu berusaha menyadari bahwa manusia yang lainnya juga sama dengan diri saya, mempunyai kepartikularan-nya sendiri-sendiri. Saya berusaha sebisa mungkin untuk menghargai kepartikularan orang lain, meskipun orang itu adalah istri saya, atau orang tua saya sekalipun. Saya sebisa mungkin menghindari penyeragaman, bahkan dalam hal beribadah sekalipun saya tak pernah mengatur istri saya atau menyarankan kedua orang tua saya untuk memilih varian Islam yang saya yakini. Juga dengan teman-teman atau kerabat saya, urusan perbedaan agama, keyakinan,ras dan suku bangsa, atau pandangan hidup lainnya, sangat-sangat tidak berpengaruh dalam bagaimana cara saya memperlakukan mereka.

Dalam hal ini saya rasa pandangan  Lila Abu Lughod (1991) bahwa sesuatu yang partikular mendorong kita untuk memahami kehidupan orang lain sebagaimana kehidupan kita sendiri, adalah tepat. Menurut Abu Lughod, manusia bukanlah robot yang terprogram dengan sesuatu yang bernama aturan budaya. Tetapi manusia adalah makhluk yang mempunyai banyak pilihan, membuat berbagai kesalahan, mencoba untuk menjadi baik, mengalami berbagai macam tragedi dan kehilangan, saling menikmati satu sama lain dan mencari momen kebahagiannya masing-masing. Aduh, alangkah indahnya dunia yang ia gambarkan. Saya melihat dalam hal ini, suatu harmoni justru dibentuk dari pertemuan antara sesuatu yang partikular yang berbeda-beda itu.

Saya menikmati sekali, kepartikularan Jawa ibu saya yang ngoko, saya sangat merasa benar-benar menjadi Arek Suroboyo yang lugas dan pemberani. Pada sisi lain, saya juga sangat beruntung dengan kepartikularan Jawa ayah saya yang menjadikan saya mampu bergaul dengan kelompok aristokrat dan teknokrat  Jawa yang masih dominan dalam birokrasi kelembagaan negeri ini. Dengan dua Jawa itu saya berusaha berinteraksi dengan dunia di luar kebudayaan saya dan mencoba bertahan dalam pola pergaulan ibu kota yang cukup menantang ini. Selama 15 tahun lebih saya mengembara di Jakarta seorang diri, tanpa ada sanak-saudara di sekitar saya. Memulai hidup dengan menjadi guru SD di daerah Gunung Sindur, Bogor, lalu mulai kuliah sambil bekerja serabutan, hingga sekarang saya memiliki keluarga kecil saya di pinggiran Jakarta-Banten. Seperti apa yang disampaikan oleh Tomasello (1999) manusia memiliki karakteristik yang unik dan kemampuan kognitif yang antara lain dapat digunakan untuk berpartisipasi dalam organisasi dan institusi yang kompleks.


Blog EntryJan 23, '12 2:39 AM
for everyone

Islam apakah atau yang bagaimanakah yang saya anut. Islam normatif kah atau kebatinan kah? Islam modern kah atau Islam tradisionalis kah?  Semuanya itu tidak lepas dari pengaruh kehidupan saya dalam tiga fase yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Islam Jawa sebagai Islam yang normatif atau sebagai suatu sistem kebatinan adalah  dua kategori yang diperkenalkan Mark Woodward. Kedua kategori tersebut bukan dimaksudkan sebagai kategori-kategori sosiologis tertentu sebagaimana kategorisasi yang pernah dilakukan oleh Geertz. Kecuali itu, Islam Jawa dan Islam normatif lebih baik dipahami sebagai orientasi keagamaan atau bentuk-bentuk kesalehan. Woodward membatasi kesalehan normative sebagai seperangkat tingkah laku yang telah digambarkan Allah melalui utusannya Muhammad saw, bagi umat Islam. Kesalehan normatif dengan demikian merupakan bentuk tingkah laku di mana ketaatan dan ketundukan menjadi hal yang sangat penting. Dengan kalimat sederhana kesalehan normative adalah bentuk-bentuk tata laku sebagaimana dijalankan kaum santri yang lebih menekankan berpikir secara syariat. Adapun istilah kebatinan (mysticism) menyaran pada aspek dalam (esoteris) dalam Islam.

Terdapat dua kubu yang telah lama berselih paham dalam persoalan kebatinan Islam. Kubu pertama mereka yang menjalankan praktek tasawuf tetapi harus melalui tahapan syariat. Kelompok ini merupakan hasil pendamaian Al-Ghazali antara syariat dan tasawuf. Kubu yang kedua mereka yang berpandangan bahwa untuk mencapai kesatuan seseorang tidak mesti melakukan syariat. Islam Jawa sebagaimana digambarkan Woodward, dalam banyak kesempatan berupaya mengkombinasikan kedua kubu yang saling berseberangan tersebut (Woodward, 1999).

Sementara itu Nies Mulder berpendapat bahwa kebatinan yang ia sebut sebagai mistisisme itu lahir sebagai reaksi atas kehidupan yang penuh tekanan dan terdapat keresahan sosial, sehingga orang-orang mencari landasan baru terhadap kehidupan duniawi. Kondisi tersebut membuat perasaan menjadi terus-menerus terganggu dan tersisih secara kultural, dan keinginan untuk menghadapi perubahan zaman. Kejawen merujuk pada kebudayaan Jawa yang berpusat di Surakarta dan Yogyakarta yang dianggap sebagai pusat kebudayaan Jawa. Kejawen mendapatkan pengaruh dari pandangan keagamaan Hindu-Budha, terutama pada epos-epos yang berasal dari India, seperti Ramayana dan Mahabarata.

Dalam kebatinan Jawa, kehidupan dipandang sebagai peperangan antara kuasa kekacauan dan kuasa keteraturan. Kurawa, dalam epos Mahabarata, dinilai sebagai perwujudan dari kuasa kekacauan yang menggambarkan keangkuhan, egoisme, amarah, dan keserakahan. Kurawa dilawan oleh para Pandawa yang menegakkan kesalehan, keadilan sikap tanpa pamrih, dan kepercayaan pada tujuan kosmos dan kehidupan dunia yang ditandai suasana tenteram, harmonis, adil, dan makmur.

Manusia sebagai jagat cilik (mikrokosmos) hidup di dalam jagat gedhe (makrokosmos). Kuasa kekacauan dilambangkan pada segi badani yang bersifat keduniawian, sedangkan kebatinan berupaya menghubungkannya dengan makna terdalam dari kosmos dan moralitas. Raja dianggap sebagai perwujudan dari manfaat mistik atas dunia yang memiliki kekuasaan dan kekuatan kosmis yang mampu memberikan keberkatan dan jaminan kesejahteraan warganya. Sementara kraton merupakan gambaran kosmos dengan raja sebagai pusat semesta.

Dalam dunia kebatian Jawa, manusia perlu melepaskan segala yang keduniawian agar bersatu dengan asal muasalnya, Sang Pencipta, manunggaling kawula-gusti. Praktik kebatinan merupakan upaya untuk berkomunikasi dengan realitas asali, sehingga kehidupan menjadi pengalaman religius. Bagi penganut kebatinan, antara yang kudus dan profan tidak dipisahkan. Semua diatur harmoni supaya terjadi keseimbangan, seperti yang ditunjukkan melalui tingkah laku, adat istiadat, tata bahasa, serta upacara keagamaan.  Ada empat tahap dalam perjalanan kebatinan orang Jawa:

  1. Sarengat, menjalani kehidupan sesuai kewajiban atau hukum-hukum agama. Seorang muslim berarti menjalankan salat lima waktu; seorang priyayi menghargai dan menghormati orang tua, guru, atau raja. Dengan melaksanakan kewajiban tersebut menyadari bahwa dia sekaligus juga menghormati Tuhan; sementara bagi kaum abangan, pada tahap ini menekankan hormat pada para leluhur, roh-roh, dewa, serta tokoh-tokoh pewayangan.
  2. Tarekat, kesadaran tentang hakikat tingkah laku tahap pertama yang diinsyafi secara lebih mendalam. Doa dan ritual tidak hanya pada gerak-gerik, tetapi sebagai usaha luhur dan suci sebagai persiapan dasar untuk menjumpai Tuhan dalam batin manusia.
  3. Hakikat, tahap menghadap kebenaran dan pemaknaan mendalam. Ritual yang teratur mulai kehilangan nilai pentingnya, karena praktik kehidupan dan tindakan manusia juga merupakan wujud dari doa terus menerus kepada Tuhan.
  4. Makrifat, yakni ketika manusia sudah terpadu dengan makrokosmos, jiwa semesta. Manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi. (Mulder, 1978)

Keempat tahap perjalanan kebatinan yang disampaikan oleh Mulder itu sama persis dengan suluk (jalan) yang ke Islaman yang diajarkan dalam dunia sufisme Islam. Agaknya tahapan perjalanan ala Jawa itu memang mengadaptasi dari ajaran Islam. Sebagaimana saya ketahui, Sunan Kalijaga adalah seorang wali (satu-satunya wali ) yang dianut oleh orang-orang Jawa abangan. Keberhasilan Kalijaga dalam menyelaraskan antara Islam dan Jawa menjadinya diakui oleh orang Jawa sebagai waline Jowo. Terus terang karena saya terobsesi dengan Wali ini atau Sunan ini, saya dua kali memimpikannya. Dalam mimpi saya yang pertama, saya sembahyang berjam'ah bersama beliau di Masjid Demak, lalu mimpi kedua kami duduk dalam satu majlis dimana di dalamnya terdapat beberapa tokoh Islam tradisional yang saya ketahui atau saya kenal. Saya mereka-reka mimpi itu....

Pengembaraan saya di kota Kudus-Demak, Jawa Tengah (1997-1998) beberapa saat setelah saya lulus dari pesantren Gontor, telah meneguhkan saya bahwa betapa ajaran Jawa sangat adiluhung sehingga  rela untuk mengadaptasi beberapa ajaran Islam tanpa harus kehilangan jati dirinya. Sejak saat itu saya meneguhkan diri bahwa saya adalah penganut Islam yang Jawa. Bukan sebaliknya Jawa yang Islam. artinya secara sadar saya akan membatasi ke Islaman saya dengan kepatutan yang telah ditanamkan oleh nilai-nilai ke-Jawa-an saya, bukan sebaliknya. Maka pada titik ini saya berpendapat sama dengan Pak Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang mempunyai gagasan untuk melakukan pribumisasi Islam di Indonesia, bukan Islamisasi Indonesia seperti yang digagas oleh para tokoh Islam modernis di Indonesia. Di Kudus, saya tinggal mengaji di suatu pesantren di jalan Kyai Telingsing, suatu jalan dekat dengan wilayah Masjid Kudus, dimana terdapat makan seorang pemuka Islam-Cina di Kudus, Tai Ling Sing yang dikenal dengan Kyai Telingsing. Hingga saat ini makam sunan ini, tidak hanya diziarahi oleh umat Islam, tapi warga Cina di sekitar Kudus pun turut menziarahi. Bersama tokoh ini, Sunan Kudus membuat semacam perjanjian budaya yang diikuti oleh masyarakat Kudus saat ini, bahwa ajaran Islam yang mereka dakwahkan akan  tetap menghargai ajaran Hindu Budha yang telah terlebih dahulu ada di Kudus. Maka lihat saja, sampai hari ini di kota Kudus tidak ada orang yang  menyembelih sapi, meskipun pada hari Qurban. Untuk menghormati masyarakat Kudus yang mengagungkan sapi, Sunan Kudus tidak menyembelih sapi, tapi menggantinya dengan kerbau. Lalu masih di Kudus, saya menemui suatu klenteng di dekat terminal Masjid menara yang pada hari-hari perayaan tertentu menyelenggarakan pagelaran wayang bersama warga sekitar yang muslim.

Dan pengalaman yang paling membekas dalam hati saya, di Kudus saya sempat menyaksikan bagaimana Gus Dur memberi ceramah dengan harmoni di hadapan ribuan jama'ah haul Mbah Asnawi Kudus. Sejak saat itu saya penasaran dengan model Islamnya Gus Dur. Lalu saya banyak membaca tulisan beliau, lha kok nyambung dengan roso ke jawaan saya. Yang terakhir tak kalah membekasnya adalah ajaran guru saya, Gus Aniq di Langgar Dalem, Kudus. Melalui pengajian kitab Ihya' Ulumuddin karya Al Ghozali beliau berpesan kepada saya sewaktu pamit pulang ke Surabaya, "kang beragama itu yang terpenting adalah bagaimana menghidupkan hati, seperti al Ghozali beliau juga mengajarkan bahwa ilmu agama itu adalah ilmu hati, menghidupkan agama berarti menghidupkan hati....' lha ini juga selaras dengan kejawaan saya. Maka sejak saat itu saya menamai Islam saya adalah Islam Jawa...


Blog EntryJan 20, '12 11:17 PM
for everyone

Saya menganggap bahwa kuburan (makam) leluhur mempunyai arti penting dalam kehidupan saya. Gambaran soal kuburan ini dengan baik saya simak dari Grave of Tarim karya Engseng Ho yang menuliskan bahwa bagi masyarakat Hadrami yang ia teliti, makam adalah penting untuk dipelihara, bukan hanya karena makam itu dianggap suci dan dikeramatkan, namun juga karena pada makam lah titik simpul kehidupan mulai saling terkait satu sama lain. Menurut saya, Engseng Ho dalam bukunya itu cukup memperhatikan dengan sangat baik fungsi kuburan. 

Saya setuju dengan Engseng Ho, bahwa dalam masyarakat diasporik, pertanyaan "di mana kamu dilahirkan?" tidak menjadi penting, tapi pertanyaan "di mana kamu meninggal dan dikuburkan kelak?" menjadi sangat penting. Makam adalah penanda kehadiran seseorang, yang boleh jadi membawa garis keturunan di berbagai wilayah. Hubungan antara anak dengan bapak atau dengan ibunya, anggaplah jika si ayah atau si ibu itu tidak berada dalam satu wilayah yang sama dengan si anak, akan dibangun pada keberadaan makam si ayah atau makam si ibu. Makam itu  menjadi sangat penting bagi si anak untuk menjaga sekaligus menegaskan identitas diri si anak.

Demikianlah saya, saya boleh dikatakan adalah bagian dari masyarakat yang berdiaspora itu. Sebagai keluarga baru, entitas baru dalam kosmologi kekerabatan Jawa, saya sudah tidak memikirkan lagi dimana saya lahir. Saya sesekali kembali ke Surabaya, terkadang bukanlah untuk menyapa yang masih hidup, atau mengenang dimana saya dilahirkan. Setau saya rumah sakit dimana saya dilahirkan, yaitu RS Mardi Santoso di Bubutan, Surabaya, sudah berubah menjadi sebuah restauran! lalu rumah masa kecil saya, dimana ibu saya akan mbrojolin saya disitu sekarang sudah menjadi bengkel dinamo! Tapi dengan kepulangan saya ke Surabaya, saya ingin memastikan bahwa makam leluhur saya, makam emak saya, makam kakek buyut saya masih dalam keadaan baik-baik saja. Lalu saya berdo’a di atasnya, melakukan dialog imajiner dengan yang sudah mati itu. ngobrol ini itu, menyampaikan harapan, menciptakan katarsis baru dan sebagainya.

Setelah ziarah kuburan leluhur itu, saya seperti kembali me-recharge ulang energi kehidupan saya. Dunia Jawa saya telah mengajarkan bahwa yang mati masih bisa menyaksikan tingkah laku kita di dunia, sementara kita tidak. Dan lagi, yang mati tak lagi mempunyai kepentingan atas diri kita, sehingga yang mati serasa lebih objektif dalam menyikapi kita daripada mereka yang masih hidup. Itulah imajinasi budaya Jawa yang saya yakini. 

Lalu mengapa saya menuliskan ini semua, tentang kuburan ini? Saya teringat bapak saya, yang beberapa hari yang lalu baru saja menghantarkan teman karibnya ke kuburan. Bapak saya bilang kepada saya melalui telpon, "nang, aku sudah punya kuburan lho. sudah disediain sama penjaga kuburan Mbahnang di Asem jajar, tapi aku pinginnya ngumpul sama Emak di kuburan Tembok!" Mendengar pernyataan itu, serasa senyap sekujur tubuh, jaringan interlokal serasa terhenti oleh suatu ruang kosong untuk beberapa detik, meski mulut saya tetap nyerocos menjawab pernyataan bapak saya itu. Ya , hari itu akan segera saya hadapi, dimana saya harus menghadapi Bapak saya dalam keadaan yang lain, dalam keadaan  mati yang sudah tak lagi berkepentingan atas urusan dunia saya.

Begitu pun saya, sebagai perantau, sebagai warga diasporik, saya juga terkadang mikir soal kuburan itu. Meski saya nggak terlalu pikirin dengan serius, sambil menghibur diri dengan lafalnya Gusti Alloh dalam Al Qur'an surah Al Fath yang mengatakan " dan tidak ada satu individu pun yang mengetahui apa yang akan ia kerjakan esok hari. dan tidak ada satu individupun yang mengetahui pada bumi mana ia akan berkalang tanah....". Begitu ya.... 



Blog EntrySep 6, '11 3:05 PM
for everyone
Apa yang istimewa dari Surabaya? tentunya banyak sekali dan mungkin nanti akan saya kisahkan dalam tulisan saya satu persatu. salah satunya adalah soal bahasa ngoko Suroboyoan yang kerap digunakan oleh kaum Kromo Suroboyo. Bahasa mereka ini terdengar kasar, kadang saru, vulgar tanpa tedeng aling-aling, tapi paling tidak itu menandakan keterbukaan dan budaya lugas Wong Suroboyo yang sudah d saikenal seantero Indonesia itu. Kala pulang ke kampung halaman di Surabaya, adalah saat yang menyenangkan bagi saya untuk kembali mendengarkan bahasa-bahasa kromo Surabaya itu. Tanpa sengaja, saat membeli makanan atau nongkrong di warung bahasa kromo, celotehan atau guyonan Suroboyoan itu akan terlontar dari orang-orang sekitar, dan dengan itu saya langsung mengenali apakah si fulan wong Suroboyo asli atau bukan?

Sapaan seperti “yo opo kabare rek? sik urip tah? tak pikir wis matek awakmu?”(gimana kabarnya? masih hidup?saya pikir sudah mati kamu…) terdengarnya berkonotasi kasar dan kurang sopan, tapi itulah keakraban pergaulan kromo khas Suroboyo. beberapa waktu lalu saya mendengar dengan geli, seorang bakul rujak yang bertutur kepada pelanggannya, “ini anak ku, gak percoyo yo? gak podo ancene soale nemu nang larak’an” (ini anak ku, gak percaya ya? memang kita tidak mirip, karena anak itu aku temukan di tempat sampah). Sangat kasar bukan? bercanda dengan mengatakan bahwa anaknya adalah hasil temuan dari tempat sampah! hahaha saya geli sekali mendengarkannya dan kangen saya terobati, inilah masyarakat ku yang terbuka, lugas tanpa menutupi perasannya, bebas saja melontarkan canda, modal yang baik untuk membangun suatu kejujuran! dan saya lahir dan menjadi bagian dari mereka!

Memang tidak semua wong Suroboyo akrab dengan situasi pergaulan kromo macam ini, setidaknya Williem H. Frederick dalam bukunya tentang sejarah revolusi di Surabaya telah menggambarkan dengan baik, bagaimana susunan “kasta” dalam masyarakat Surabaya. Ada golongan priyayi, bagian kelas menengah kota yang terpelajar, terdidik dan terbiasa dengan pergaulan kelas atas yang sarat dengan aturan dan etika yang mengikat secara ketat. Dari golongan ini guyonan kromo seperti yang saya tuliskan di atas, tentu tidak akan kita dapati. Juga pada golongan santri, tentunya guyonan suroboyoan itu akan berirama sama dengan nuansa agama yang berbeda. beberapa kata yang mereka anggap tidak senonoh atau vulgar tentu tidak mereka tuturkan. Ada juga golongan jelata yang hidup di kampong-kampong Surabaya, tidak terdidik,  tidak agamis, cenderung abangan mesti menaruh hormat pada kyai dan ulama.

Golongan pertama dan kedua, dalam pergaulan mereka menggunakan bahasa kromo inggil yang cukup ketat. sedangkan golongan yang akhir tidak mengenal kromo inggil, tapi menggunakan bahasa ngoko yang lebih kasar dan bernuansa egaliter. dari golongan inilah lahir wong-wong seniman macam Cak Durasim, Markeso, Kartolo cs, dan mungkin Gombloh! Dalam tutur kata golongan jelata ini, kata-kata semacam Jancuk (fuck you!), Jangkrik!, Asu (Anjing) terkadang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari yang dianggap wajar dalam skala keakraban yang teramat sangat. Memang fenomena semacam ini tidak hanya terjadi pada masyarakat Surabaya. Setau saya dalam masyarakat Betawi, Batak, atau Padang sekalipun, juga terdapat ungkapan pergaulan yang serupa, seperti Ngentot atau Pantek misalnya.

Tentu saya tidak ingin membahas sikap saya terhadap bahasa-bahasa kromo semacam itu. Saya hanya ingin berusaha menyadarkan diri saya, bahwa betapa banyak bahasa Suroboyoan lainnya yang sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat Suroboyo. Pengaruh perkembangan zaman, antara lain pengaruh bahasa para penyiar Radio dan berbagai tayangan televisi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jakarta (bukan Betawi), sudah mulai ikut ditiru oleh beberapa segmen masyarakat tertentu di Surabaya. Mendengarnya rada janggal. Lalu saya teringat dahulu di sekolah SD, betapa beberapa kawan dan ortunya bangga dengan bahasa Indonesia yang mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari, sekedar untuk menunjukkan kelas atau golongan keluarga mereka. Bagi beberapa keluarga, berbahasa Indonesia kala itu dianggap mempunyai prestige tersendiri, sehingga mereka rela meninggalkan bahasa ngoko Suroboyoan….

Di keluarga saya, ada dua darah yang mengalir di dalamnya. keluarga Bapak saya adalah keluarga santri Jawa yang menganggap bahwa bahasa kromo inggil itu masih perlu digunakan dalam pergaulan sehari-hari, khususnya kepada para orang tua. Sementara keluarga Ibu saya adalah keluarga asli Suroboyo yang menjadikan bahasa ngoko sebagai bahasa Ibu! maka saya waktu kecil sudah terbiasa menggunakan kromo inggil ala Mataraman bila berbicara dengan para orang tua, meski dalam bergaul dengan sesama saya fasih menggunakan bahasa ngoko! sampai sekarang pun, lidah dan liur saya masih kental dengan nuansa Suroboyoan! terkadang jancuk, jangkrik dan asu pun masih terlontar dengan tidak sengaja dari mulut saya kala bertemu kawan akrab atau dalam keadaan kesal!

Hal itu juga terjadi dengan keponakan-keponakan saya. rat-rata mereka fasih menggunakan bahasa Suroboyoan atau bahasa khas Malang, sesuai dengam domisili masing-masing. ada satu keponakan yang akrab dengan bahasa Jakarta-an dengan logat Jawa yang medok, sebabnya si anak banyak bergaul dengan orang Cina dan ayahnya juga mempunyai kerabat di wilayah Jakarta. Yang saya sayangkan dari mereka, adalah hilangnya kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa kromo inggil, yang menurut saya juga perlu untuk digunakan dalam tingkat pergaulan tertentu, khususnya kepada para orang tua.

Akhir akhir ini saya  juga tersadar ada beberapa kata ngoko usang yang mulai hilang dari peredaran.  Saya jarang sekali mendengar orang mengucapkan kata trachoom (sejenis penyakit mata, disebut untuk orang yang menggunakan kaca mata), gak patek en (tidak kurapan, idiom yang berarti tidak rugi sama sekali), ndesit (dari kata ndeso: kampungan)  dan banyak lagi….


Blog EntryJun 19, '11 11:50 AM
for everyone
Maret 2011 yang lalu, buku saya Yang Muda Yang Berkiprah: Gerakan Pemuda Ansor dan Politik Indonesia Masa Demokrasi Liberal Hingga Masa Reformasi 1950 – 2010 diterbitkan oleh Kekal Press. Pada halaman persembahan buku itu saya tuliskan “mengenang Mahrus Irsyam dan Pak Dur (KH Abdurahman Wahid”. Kedua beliau telah wafat mendahului kita semua, Pak Mahrus wafat pada tahun 2003 dan Pak Dur wafat pada 2009. Lalu siapakah kedua beliau itu? apa artinya buat saya atau buku saya itu? 

Kalau Abdurrahman Wahid atau yang kita kenal dengan Gus Dur atau Pak Dur, niscaya semua orang akan tau. Beliau Bapak Pluralisme Indonesia, Presiden RI ke-4, dan tokoh utama NU, organisasi kaum santri atau Islam tradisi di Indonesia dengan basis pesantren dan kitab kuningnya. Lalu siapakah gerangan Mahrus Irsyam? beliau adalah pengamat politik, pengajar di jurusan Ilmu Politik FISIP UI dan salah satu concern almarhum adalah mengamati dan menganalisa dinamika sosial politik NU. Maka, tak heran jika beliau fasih berbicara seluk beluk NU, meski beliau sendiri konon datang dari kultur Muhammadiyah. Perhatian Pak Mahrus terhadap dunia NU, setidaknya telah terlihat dalam skripsi S1 FISIP UI Nahdlatul Ulama: 1945 – 1952 yang ia selesaikan pada tahun 1974. Kemudian pada 1984 ia menuliskan sebuah buku Ulama dan Partai Politik:Upaya Mengatasi Krisis yang juga membahas kiprah NU dalam dunia politik Indonesia.

Dari mana saya mengenal Pak Mahrus? tidak lain adalah istri almarhum yang mengenalkan saya kepada Pak Mahrus. Kami di Jurusan Sejarah UI biasa memanggilnya dengan sebutan Mbak Titik, nama itulah yang familiar di kalangan mahasiswa sejarah UI untuk menyebut Tri Wahyuning M Irsyam, istri Pak Mahrus. Maklum selain dikenal sebagai dosen yang akrab dengan mahasiswa, Mbak Titik atau Ibu Titik adalah mantan Ketua Jurusan Sejarah UI yang juga dikenal sebagai murid kesayangan Nugroho Notosusanto, salah satu maestro studi ilmu sejarah di Indonesia. Ketika Ibu Titik mengetahui bahwa saya juga mempunyai kecenderungan untuk mengamati sejarah NU, beliau menyarankan saya untuk menemui Pak Mahrus di Laboratorium Politik Fisip UI.

Berbekal makalah pra skripsi yang telah saya susun, saya menghadap Pak Mahrus di ruangan kerja beliau di Fisip UI. Itu adalah pertemuan pertama kami, mungkin di tahun 2001 atau 2002. Saat saya memperkenalkan diri beliau hanya menjawab singkat “oh ya, kamu muridnya Ibu, yang anak sejarah itu ya, saya sudah dengar kamu mau menulis NU”. Setelah itu, beliau memberi wejangan kepada saya panjang lebar sambil memberi saran beberapa literature yang sebaiknya saya baca untuk persiapan menulis sejarah NU, termasuk skripsi beliau tentunya. Sejak itu, kami jarang bertemu, meski satu dua kali saya mengundang beliau untuk berbicara di depan forum PMII. Beliau hanya berujar singkat “saya bukan NU lho, meskipun saya peduli dengan NU!” 

Dari perkenalan saya dengan Mahrus Irsyam itulah, saya seolah tersengat lalu tergerak untuk lebih mengenal dan memahami NU secara akademik. Ujaran beliau “saya bukan NU lho, meskipun saya peduli dengan NU!” itu membuat saya berpikir betapa NU banyak dibedah, diteliti, dipelajari secara ilmiah oleh orang-orang dari luar NU.  Berapa banyak Indonesianis dari bangsa lain yang menekuni kajian tentang NU, sebut saja Greg Barton, Andree Feilard, Martin van Bruinessen, Mitsuo Nakamura, semuanya adalah peneliti asing yang rajin dalam mengkaji NU. Mereka peduli untuk mengkaji NU secara ilmiah. Lalu siapa kiranya dari kalangan dalam NU atau di luar NU, dari bangsa Indonesia ini yang tertarik untuk menekuni kajian tentang NU? Pertemuan saya dengan Pak Mahrus itulah yang semakin menguatkan saya, bahwa saya harus mengkaji NU. Setidaknya dari kampus UI inilah kajian atau studi ilmiah tentang NU harus saya mulai secara serius.   

Kepedulian Pak Mahrus terhadap NU itu cukup menyentuh saya, bahkan di saat-saat terakhir kami bertemu, di saat beliau masih dalam perawatan yang cukup serius di RSCM beliau terus bertanya kepada saya bagaimana kondisi nutakhir NU dalam perpolitikan Indonesia. Pak Mahrus terus bertanya perkembangan penelitian saya tentang NU, sambil terus mengingatkan kepada saya pentingnya untuk mengkaji NU. “Erwin, ingatkan Gus Dur, ingatkan Gus Dur, refleksikan kiprah Gus Dur saat ini dengan kiprah para pendahulu NU, para kyai kyai NU pada periode masa lalu. Tulislah Gus Dur….” itulah yang beliau nasehatkan kepada saya untuk terakhir kalinya. Dan pertemuan akhir saya dengan Pak Mahrus cukup mengharukan, beliau memohon do’a untuk kesembuhan, berkirim salam untuk keluarga besar NU, dan yang tak pernah saya lupa sorot matanya seolah berkata kepada saya “teruskan kajian tentang NU, teruskan concern Mahrus Irsyam untuk mengkaji NU….”

Maka, Pak Mahrus, di alam keabadian itu anda bersemayan, inilah saya persembahkan karya pertama saya tentang NU. semoga saya bisa konsisten. saya persembahkan karya ini untuk mu, Mahrus Irsyam dan Pak Dur, yang mungkin saat ini telah bersua dengan mu di alam sana. 

Blog EntryMar 29, '11 11:32 AM
for everyone

Bicara gudeg, emang Yogya lah tempatnya. Gudeg Yu Jum adalah salah satu tempat kita menyantap gudeg wenak asli Yogya. Tempatnya dekat sekali dengan kompleks UGM. Tidak terletak di tepi jalan, tapi malah masuk ke sebuah gang selebar --dua mobil pas-- dan terletak di sebuah rumah sederhana di ujung gang. Sebelum mencapai warung ini, kita akan dihadang terlebih dahulu oleh beberapa warung gudeg lainnya, dengan bangunan lebih bagus dan tampak lebih modern. Tapi tampaknya kesohoran Gudeg Yu Jum tak mampu dihadang oleh semua itu. Saya menuju ke tempat ini pukul 7 pagi, pas perut mulai keroncongan dan baru terisi oleh angin dan air putih. Saya datang masih sepi, meski telah ada 2 atau 3 pengunjung yang telah berkeringat menyantap gudeg dan kawan-kawan. Tapi tak berapa lama, halaman parkir warung mulai penuh, dan tamu mulai berdatangan memenuhi ruangan warung yang sengaja ditata sesederhana mungkin itu, khas warung-warung kampung di Jawa. 

Yang membuat saya terpana, untuk pertama kali, adalah dapur warung yang masih tradisional lengkap dengan tungku api dengan kayu bakar sebagai sumbunya. beberapa orang ibu, sibuk memasak, yang lain mengelus-elus daun pisang untuk disiapkan sebagai alas piring menu gudeg yang akan disantap para tamu. Saya memesan gudeg plus paha ayam kampung, lalu yang hadir d hadapan saya adalah gudeg krecek lengkap dengan paha bawah ayam yang masih menyatu dengan cekernya! waduh, saya tak suka ceker, tapi rupanya di Yogya, potongan semacam itu  memang lumrah, paha bawah ayam akan disajikan utuh dengan cekernya! tapi ya sudahlah saya menyantap gudeg yang manis, krecek yang becek-becek pedes karena ada suiran cabe merah yang terkletus tus! lalu paha ayam yang lumayan empuk, cepat lumer di lidah. Semangat saya untuk melahap makanan mulai berkobar, awal yang bagus untuk sebuah sarapan. lalu getaran suara penyanyi keroncong mulai mewarnai ruangan. Suara penyanyi itu bergetar melantunkan lagu keroncong yang cukup serius, saya tak mengenal liriknya. Lirik keroncong yang kerap saya dengar di tempat-tempat semacam ini, terutama jika penyanyinya laki-laki, biasanya seperti ini "ndang baliyo Sri....ndang baliyo....". Tapi  kali ini, penyanyi nya adalah seorang ibu, ditemani empat orang bapak-bapak sepuh yang rautnya  sudah tampak bosan memainkan alat musiknya. Padahal hari masih pagi, dan bisa jadi itu adalah tampilan perdana mereka di pagi hari itu. Kenapa sedemikian muram wajah mereka? Mungkin mereka belum sarapan? mungkin saja.

Sepulang sarapan, ada seorang gus dari Purworejo yang ikut makan bersama saya dan seorang teman lainnya mulai membuka pembicaraan tentang gudeg. "Dulu gudeg itu makanan rakyat jelata, tapi alhamdulillah kini sudah menjadi makanan mewah", tukas kyai muda itu. Lalu ia menambahkan keterangan kenapa gudeg menjadi makanan favorit rakyat jelata?karena nangka itu, bahan dasar gudeg, relatif mudah dan murah diperoleh masyarakat luas. pohon nangka, banyak kita temui di pedalaman Jawa, lalu mereka menanamnya dan kemudian  mengolah nangka muda menjadi lauk mereka. dengan bermaksud berhemat, lauk nangka muda  itu disimpan untuk jangka waktu yang lama. Dan ajaibnya, ternyata makin lama disimpan, makin kecut rasanya lha kok makin nikmat disantapnya, itulah gudeg. Lalu saya menambahkan kepada si gus tadi, bahwa nggak hanya gudeg, nangka muda di wilayah lain juga dijadikan lauk pelengkap bagi makanan rakyat, contohnya di Betawi, sayur asem juga ada unsur mangka mudanya....semakin ditahan semakin medok rasanya. Bagi saya yang lebih mantap lagi adalah sayur lodeh tewel  khas Surabaya, yang juga aduhai rasanya. Sayur lodeh ini semakin di simpan dalam waktu lama, semakin meduk rasanya, semakin pulen tewelnya....dgn sedikit sentuhan lombok ijo, lodeh tewel juga sama nikmatnya dengan gudeg Yogya. Tapi apapun, jempol lah untuk rakyat jelata seperti Yu Jum yang telah mewariskan gudeg kepada kita semua...         


Blog EntryMar 29, '11 11:11 AM
for everyone

Tahun 1994, adalah perjalanan pertama saya menuju Yogya. Usia saya kala itu baru 16 tahun, saya duduk di kelas 4 KMI di Gontor. Pada liburan akhir tahun, 10 hari menjelang ramadhan, saya buru-buru pamit untuk pergi ke Yogya dan seterusnya menuju Cirebon, Jakarta, Tangerang, dan Cipanas, Bogor. Itu adalah perjalanan terjauh yang pertama kali saya lakukan. Di Yogya, saya menuju asrama Brimob, Baciro, tempat kawan pesantren saya tinggal, namanya Tri Nugroho. Saya belum banyak tau tentang Yogya, saya belum membaca Markesot karya Cak Nun, sehingga mengetahui bahwa idola saya ketika belia itu pernah berkelana di Malioboro, Jogya. Saya belum tau banyak apa yang seharusnya saya lakukan jika sampai di Yogya, selain mengunjungi Keraton dan berkeliling mencari gelang tali-karet khas Yogya. Makanan semacam gudeg yang juga khas Yogya atau bakpia patok, tidak masuk dalam daftar pencarian saya kala itu. yang saya cari dalam perjalanan pertama itu adalah, kebebasan! bukan gudeg, bukan bakpia, bukan bakmi, bukan soto, juga bukan Malioboro!

Tahun 2000, saya kembali ke Yogya. Setatus saya adalah mahasiswa sejarah Universitas Indonesia. suatu ketika kami menerima undangan untuk suatu seminar nasional yang diadakan oleh kawan-kawan sejarah di Yogya. tak tanggung-tanggung, kami berangkat menuju Yogya ber-30! satu gerbong kereta ekonomi Jakarta-Yogya itu hampir terisi penuh oleh mahasiswa sejarah. senda gurau selama perjalanan cukup menjadi memori yang tak terlupa hingga saat ini. Di Yogya, kami mulai tour dari kampus ke kampus, lalu mulai nongkrong di Malioboro, makan lesehan nasi kucing di UGM, tidur gelar koran depan Benten Vradeburg hingga mencoba memanjat pagar komplek Prambanan kala bulan purnama! Memori tentang Yogya pada 2000 dan Yogya pada 1994 itu cukup tersimpan dengan baik dalam benak saya. Bukan gudeg, bukan bakpia, bukan bakmi, bukan soto atau Malioboro yang saya kenang, tapi saya lebih mengenang kekonyolan yang saya lakukan pada saat itu. Di tahun 2000, saya sempat sok tau tentang Yogya, yang akhirnya membawa teman-teman saya berjalan kaki sepanjang 5-7 km dari asrama menuju ke stasiun Yogya! hahaha semua pada ngedumel, pokoknya seru, meski capek, tapi rasanya seru!

Tahun 2009 saya kembali ke Yogya. tidak ada yang konyol yang saya lakukan. karena urusan pekerjaan (membangun museum) Yogya tampak nikmat dan mewah bagi saya. tidur dari hotel ke hotel. dari hotel yang wenak sampai hotel yang terlalu wenak, sampai saya nggak bisa tidur. kalau dulu ke Yogya naek kreta atau bus, sekarang saya naek pesawat, meski harus komat kamit menyebut nama Tuhan kala pesawat take off atau landing di atas udara Yogya! Sejak 2009 itu, saya mulai memburu DagaDu, dan istri saya pun ikut2an memburu semua benda yang murah-meriah sepanjang Malioboro. Trus makan wenak, cari Gudeg yang nomor satu, bakmi atau nasi goreng magelangan yang nikmat, meski sego kucing, wedang jahe plus sate usus di emperan jalan juga tak saya tinggalkan. Pada 2009 itu banyak pengalaman yang saya dapat dari Yogya. saya bertemu dengan beberapa seniman di sana, mulai mengunjungi galeri seni dan museum di seputar Yogya. semua itu cukup berharga buat saya. dan ada beberapa cita-cita yang tersimpan dalam benak ini, karena pengalaman-pengalaman itu.

Tahun 2011 ini, saya kembali ke Yogya. kali ini agak unik. saya harus bertandang ke Krapyak, salah satu daerah Yogya yang terkenal sebagai kawasan pesantren. Selama ini saya hanya mendengarnya saja, mengetahui dari berbagai bacaan bahwa Krapyak adalah tempat dimana beberapa kiai besar, seperti Gus Dur misalnya, pernah belajar untuk beberapa waktu. lalu saat di Kudus (1997), saya pernah satu indekos dengan seorang Gus dari Krapyak yang sedang menghafal Al Qur'an di pondok kiai Arwani. Kalau sebelumnya hanya mendengar, maka saat ini saya benar-benar sampai di Krapyak. Setelah menuju pondok (Ali Maksum), saya sholat Jum'ah dengan khotib dan imam sholat seorang kiai sepuh yang masih fasih dan jelas lafadznya, meski pita suaranya telah slendro termakan usia tua. Selepas sholat, saya langsung santap siang di warung sekitar pesantren, alhamdalah ingatan saya langsung ke Kudus, menu yang nikmat meski sederhana, murah meriah, kita bak raja kala menyantapnya! wenak tenan....makan sambil nongkrong di tengah terik matahari sembari menyeruput es teh manis....ya seperti di Kudus dahulu.  

Selain ke pesantren perjalanan ke Yogya kali ini saya lengkapi dengan mencicipi beberapa makanan di tempat yang baru saya kenal, agak terlambat memang, tapi tak apa yang penting sudah tau sekarang tempatnya. Malam hari saya ngokop Bakmi Pele di sekitar alun-alun, lalu sarapan pagi di Gudeg Yu Jum, trus santap siang di Soto Kadipiro yg legendaris itu.Semuanya saya lalui dengan nikmat, dan pulang dengan menenteng Bakpia Kurnia Sari dan Wingko Mataram. Wuiih... Yogya, Aku selalu kembali!     


Blog EntryMar 11, '11 3:54 AM
for everyone
Beberapa jam yang lalu, saya telah memasuki usia 33. dan sholat Jum'ah siang ini adalah sholat saya yang pertama di usia 33 itu. saya merenung dalam istirahat saya dini hari tadi juga pagi ini. sudahkah saya merasa bahagia dengan hidup saya? jawabannya adalah sudah. lalu pertanyaan kedua, sudahkah saya membahagiakan orang-orang di sekitar saya? jawabannya saya senantiasa berusaha. jangan kan manusia, bahkan semut, kecoa dan nyamuk yang biasa keliaran di rumah saya, akan saya buat mereka fell happy. saya bunuh satu persatu dengan canda tawa dan humor yang riuh rendah. ya humor, pada suatu masa saya memang hampir kehilangan selera humor saya, sampai keadaan membebaskan saya, dan selera humor itu muncul kembali menghidupkan hari-hari saya. dengan kawan-kawan aktivis saya di Arimbi Bogor, saya kerap melempar humor mesum, humor yang jorok tapi nikmat! kalau dengan istri saya, saya kerap membuat humor tentang kehidupan sehari-hari, dari mulai soal makan sampai urusan nyanyi, kami berdua selalu mengisi itu semua dengan humor. maklum kami belum punya momongan, tidak ada cara lain buat kami untuk mengisi hari-hari yang indah itu kecuali dengan humor. lihat saja, kado coklat yang ada di gambar tulisan ini, itu adalah tanda bahwa istri saya mulai tertular selera humor saya..... Tapi, malam itu. menjelang 33 saya tersengat virus serius. meski tak membunuh selera humor saya, setidaknya pikiran dan hati ini mulai masygul. apa kiranya yang ingin saya prioritaskan dalam hidup saya ke depan? dalam perenungan itu, saya mencoba menengok ke belakang, betapa vivere peri coloso hidup saya, nyerempet-nyerempet bahaya. dan ke depan saya pikir tantangan itu selalu ada, bahkan bertambah besar. maka harus ada cara untuk mengatasi keadaan vivere peri coloso itu. pertama dengan sabar, bersyukur lalu jangan berhenti berbuat! maka saya lagi-lagi teringat pidato idola saya Soekarno. saat ini, tahun ini, pada titik 33 ini saatnya saya memulai untuk samen bundeling van alle crachten! tidak ada keluh tidak ada kesah. itulah yang harus saya lakukan. bola-bola kecil mulai saya mainkan, mentor-mentor baru mulai saya gantikan. dan dalam pada itu saya bersyukur kepada Gusti Allah, yang masih menjadikan para leluhur saya, orang tua saya, istri saya, keluarga saya, dan kawan-kawan saya, serta orang-orang yang saya temui, sebagai sumber kebahagiaan yang tiada henti, terus dan terus memancar.....    

Blog EntryMar 6, '11 8:26 AM
for everyone
Baru-baru ini, saya dengan beberapa kawan melakukan perjalanan menuju Lebak, Banten. Dari Jakarta kami melewati Serang, menuju ke arah Rangkasbitung lalu terus melaju menuju arah selatan melewati beberapa perkebunan sawit, karet, dan jalan-jalan yang menyiksa pantat sepanjang puluhan kilo meter, karena pecah-pecah, berlobang atau ambles.

Saya teringat kisah kawan-kawan saya yang berasal dari daerah ini, mungkin lebih pelosok lagi. meski hanya beberapa puluh kilometer sahaja dari ibu kota negara, Lebak memang susah dijejak. transportasi sangat jarang, atau bisa dibilang tidak ada. mungkin ojeg motor adalah salah satu alat transportasi yang paling masuk akal untuk menjejak wilayah ini. saya ingin sekali menuju Bayah. tempat dimana Tan Malaka singgah untuk berbaur dengan para pekerja rodi dan kuli perkebunan, sementara Soekarno kabarnya juga sampai ke sana, bermalam dan menikmati kehangatan di dalamnya. tapi mungkin belum waktu lalu. mungkin yang akan datang saya akan menjejak Bayah. sementara ini, Lebak telah cukup menjadi tombo kangen saya kepada tanah Banten.

Setelah beberapa puluh kilo meter mobil melaju, sampailah kami di suatu desa, berhenti di suatu masjid dan bersama masyarakat menunaikan ibadah sholat jum'at. sudah lama saya tak berjama'ah sholat jum'at. saya kerap menjadi pengembara atau musafir meski hanya putar-putar di dalam ibu kota saja. saya memang rada jemu dengan jum'atan. meski hanya dua raka'at tapi ritual khotbah sebelum sholat kerap membuat saya malas dan enggan untuk berjama'ah menunaikan jum'atan. saya lebih memilih sholat dhuhur, empat raka'at super ekspress meski itu adalah hari jum'at. di Lebak, saya mendapatkan pengalaman menarik. meski bukan barang baru buat saya, karena saya juga mengalami jum'atan yang kurang lebih sama (seperti di Lebak) di daerah-daerah lain di tataran Pasundan dan Banten ini. khotbah berlangsung singkat. khatib dalam bahasa arab menyampaikan dua khotbah dalam waktu 5 - 10 menit dengan nada datar dan menyinggung hal-hal yang wajib saja dalam khotbah, seperti memuji asma' Allah, bersyukur, sholawat kepada nabi, menyerukan ke takwaan dan menyitir penggalan ayat al qur'an lalu berdo'a bersama. demikian simpel, sederhana dan bersahaja.

lain khotbah jum'atan di kota. yang kita bisa memilih menunya. sebut saja jika kita sholat di wilayah tanah abang, di salah satu masjid pusat da'wah Muhammadiyah, kita akan mendengar khotbah yang masih mengangkat tema perbedaan (khilafiyah) dalam melakukan syari'at sehari-hari. lalu bergeser ke arah Kwitang, ada suatu masjid yang tema khatib kerap menyerang kebijakan pemerintah, terlebih bila si menteri yang mereka serang bukan dari golongan mereka. saya pernah mencoba masuk ke gang-gang di wilayah Kebon Sirih, basis golongan nahdliyin mendirikan Jum'atan mereka. tema khotbahnya lumayan biasa, membahas masalah sekitar atau mencoba menganalisa isu-isu politik yang sedang santer dibicarakan tapi dalam uraian logika yang jaka sembung bawa botol, ora nyambung tolol! atau sang khatib, yang mungkin lulusan pesantren dan mengenakan title sarjana sekenanya, memberikan khotbah jum'a t dengan bahasa Indonesia ilmiah yang blepotan. panjang lebar, tak kita tangkap maksudnya, kecuali ajakan sang khatib untuk kita bertakwa.

sementara di kantoran atau kampus universitas, Jum'atan lebih seru lagi. sholat jum'at hanya menyita waktu 5 menit sementara khotbah jum'at bisa mencapai 30 hingga 45 menit. sang khotib berkhotbah seperti monolog. panjang teks khotbah jum'at yang mereka ketengahkan bisa lembaran jumlahnya, mirip makalah seminar. dahulu waktu di kampus atau di kantor, sembari menanti khotbah usai. saya kerap menyempatkan diri untuk makan siang di sekitar masjid, lalu menyemir sepatu, baru loncat ikut sholat jum'at! efisien bukan?

di Lebak, efisiensi serupa tapi tak sama juga saya tangkap dari ibadah jum'atan bersama masyakarat sekitar masjid. Jum'atan hanya membutuhkan waktu 15 - 20 menit. berlangsung khusyu' tidak ada monolog panjang yang membosankan. begitu khatib usai membacakan khotbah singkatnya, kita berjama'ah dua raka'at. bacaan imam jelas dengan pilihan surah yang tak terlalu panjang, suaranya datar dan enak didengar, tanpa suara mendayu-dayu bacaan al qur'an yang kadang mengusik rasa khusu'. seusai sholat itu sang imam memberikan pilihan, apakah jama'ah masih mau melakukan ibadah sholat dhuhur bersama atau menyudahi jum'atan dan mencukupkan dengan sholat dua raka'at mereka? sangat demokratis. tidak ada paksaan dalam beribadah. tidak ada pilihan yang itu kurang afdhol yang ini lebih afdhol. seragam tapi tak sama. kompak tapi tak merampas! khusyu' yang benar-benar tak menusuk! masing-masing jama'ah boleh menggunakan pilihan paket ibadahnya sendiri-sendiri. dua plus empat? atau dua raka'at saja cukup!
 

Blog EntryMar 3, '11 8:39 AM
for everyone
memasuki bulan Maret, hati saya selalu bergetar. menanti sepasang angka keramat dalam hidup saya. 1 dan 1 menjadi 11 (sebelas). itulah tanggal lahir saya. tanggal yang membuat saya gemetar, tanggal yang sekian lama membuat saya terkagum-kagum, karena 11 maret adalah hari yang tidak saja keramat bagi saya, tapi mungkin juga bagi Soeharto, kuasa yang pongah. konyol emang? tapi itulah yang pernah saya rasa dahulu.

maklum saja, siapa anak negeri ini yang tidak menghafal 11 maret yg selalu asosiatif  kepada surat perintah sebelas maret, supersemar. di jaman Orde Baru kata itu sungguh keramat, dan saya paling tidak hidup dalam sepertiga masa yang menjadikan supersemar bagai kata-kata mutiara, rasa kemenangan dan kebanggaan, tonggak dari suatu era baru bagi Indonesia di penghujung tahun 60an. itulah rasanya 11 maret bagi saya dahulu. sebelum mengetahui betapa pahitnya tonggak itu, betapa kelabunya rasa dan peristiwa yang terjadi di balik tanggal itu, terutama bagi sekelompok orang yang kebetulan mendapat nasib tak mujur, kalah dalam perang dan dikejar-kejar, dibinasakan sepanjang 30 tahun setelahnya.....

kini kebanggaan semacam itu telah terpupus. setidaknya setelah saya mengerti dan memahami sejarah. namun apapun itu dulu dan sekarang, yang jelas 11 maret tetap membuat saya terus bergetar. bangga campur cemas. setidaknya bertanya, apa setelah ini? apa setelah titik masa ini? apa?  

Blog EntryFeb 8, '11 3:36 AM
for everyone
Sebenarnya hal ini lama mengusik saya. tapi saya diam saja. atau terkadang ngomel2 dan ngumpat2 bersama kawan-kawan jika kebetulan sedang menyaksikannya bareng2 di jalanan. Ceragem. atau terapi batu giok. yang selama 3 atau 4 tahun belakangan ini menjadi primadona masyarakat kelas bawah. ia seolah datang menggantikan para dukun pijat atau mantri dan bidan suntik puskesmas  juga dokter2 Indonesia yang mungkin sedang sibuk menyembuhkan orang sakit di rumah-rumah sakit besar dengan harga mahal, atau memilih membuka praktek di klinik mewah dan yang muda2 mungkin sedang sibuk terpencar dalam program PTT di pelosok wilayah Indonesia nun jauh disana. akhirnya ceragem menggantikan mereka semua. sebab datang dengan layanan bersahabat, gratis tanpa dipungut biaya, meski harus rela sejak subuh buta atau berdiri-jongkok-berdiri di tengah terik matahari. mereka berjejal mengantri dengan raut muka yang mungkin sedang menahan berbagai sakit, hanya menderita encok, pegal pegal, asam urat hingga mungkin mereka sedang bermasalah dengan ginjal dan  jantung mereka, sehingga sebagain dokter modern akan mengatakan "sebaiknya pengobatan ini juga dibarengi dengan terapi ceragem ya pak...."

ada juga memang layanan ceragem yang komersial. biasanya memungut biaya 15 sampai 30 ribu untuk sekali terapi di atas batu giok itu selama 30 menit atau lebih. tapi yang ini sepi pengunjung. karena mungkin lembaran 15 ribu hingga 30 rupiah itu lebih baik digunakan untuk makan dan biaya hidup sehari-hari para nyai-nyai dan engkong-engkong yang ngantri ceragem itu. dengan begitu mereka akan rela menebusnya dengan antrian ceragem gratis yang memilukan itu. lalu kemana para mantri bidan dan dokter-dokter kita? atau paling tidak jika memang batu giok itu benar bermanfaat untuk pemulihan kesehatan masyarakat umum, setidaknya pemerintah turun tangan untuk mengadakannya secara massal agar antrian panjang ceragem yang memilukan itu tidak terjadi di mana-mana. jika tidak demikian, maka bergeraklah wahai dokter-dokter Indonesia? tirulah beberapa tokoh dokter lulusan STOVIA yang rela berkeliling untuk memberikan pengobatan gratis bagi rakyat negeri Hindia Belanda, pun hanya panu dan kurap atau sekedar diare yang mereka atasi, tapi sungguh itu teladan mulia. maka belakangan ini ketika saya mendengar ibu Menteri Kesehatan kita menderita sakit yang rada gawat, maka dengan nakal benak saya berguman. "jangan kau pergi ke luar negeri wahai ibu menteri, cukuplah berobat di Indonesia, sambil sesekali ikutlah antri ceragem, barangkali sengatan terik matahari dan rasa pegal di sekujur kaki, dapat menjadi obat mujarab bagi ibu menteri....". Sehatlah bangsa Indonesia!amin.  

Blog EntryFeb 8, '11 3:30 AM
for everyone
Tuduhan semacam itu pernah menimpa saya. Untungnya saya tidak senaas saudara-saudara kita jama'ah Ahmadiyah, yang belakangan ini kehidupan mereka terancam disana sini. Di Nusa Tenggara Barat mereka dikejar-kejar, di Jawa Barat dan Banten mereka dilempar dan dibakar! Saya tidak sena'as itu. Hanya dituding-tuding saja, sambil sang penuding itu menangis sesenggukan menghayati kecintaannya kepada Rasul (Muhammad saw) dan membayangkan saya sebagai Abu Jahal atau Abu Lahab yang benci setengah hidup kepada Rasul. apa sebab saya dituduh seperti itu? semua bermula dari presentasi makalah saya pada mata kuliah Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. waktu itu saya masih semester dua. dan mata kuliah itu adalah mata kuliah pilihan yang kami, anak-anak sejarah, iseng ikutan ngambil bareng mahasiswa Sastra Arab dan beberapa jurusan lainnya, berharap jumlah kuota SKS kami tidak terbuang sia-sia.

Siang itu dengan semangat dan diselingi guyon disana-sini saya mengemukakan pendapat saya tentang asal muasal para wali sanga di tanah Jawa. Saya baru saja membaca buku karya de Graff, bukan SNI III karya Nugroho Notosusanto dan tim. lalu kalimat demi kalimat saya sampaikan berdasarkan argumen buku Slamet Mulyana yang konon bersumber dari babad Klenteng itu. saya mengatakan bahwa para wali sanga itu kebanyakan berasal atau keturunan dari para ulama Cina yang masuk ke Indonesia pada akhir abad ke 14 hingga 15 Masehi. mereka bukan dari arab. kalulah ada darah arab, pasti telah tercampur pula dengan darah Cina. lalu saya katakan, bahwa pendapat itu masuk akal. karena pertama, boleh jadi sebelum Islam masuk ke Nusantara, Islam nyangkut dulu di Cina. bukankah dalam suatu hadits yang terkenal Rasul Muhammad bersabda "Carilah Ilmu hingga ke negeri Cina". itu artinya, Cina telah lebih dahulu diketahui oleh Rasul daripada Nusantara. sehingga kepak sayap Islam lebih dahulu hinggap di Cina sebelum datang ke Nusantara.

Kedua, saya juga berpendapat bahwa jika antum-antum semua datang ke beberapa site makam para wali itu berada, niscaya mereka berada di tengah komunitas yang berwarna Cina. pada makam sunan Gunung Jati di Cirebon misalnya, umat muslim juga harus berbagi dengan umat Cina Indonesia yang juga datang bersembahyang ke makam itu, karena dalam kepercayaan mereka ada salah satu makam putri Cina yang berada disana, konon putri itu adalah salah satu istri sang wali. lalu saya pernah tinggal di Kudus, saya mendapati banya kisah persinggungan sang Wali dengan para tokoh tokoh kramat yang dikabarkan berasal dari Cina. jadi saya pungkasi cerita bahwa boleh jadi, atau ada kemungkinan bahwa wali-wali itu adalah keturunan Cina, atau datang langsung dari daratan Cina! Pendapat inilah yang menuai tuduhan bahwa saya tidak cinta Rasul.....

kata mahasiswa yang menuding saya itu, bahwa saya terlampau memuji-muji Cina dan menafikan arab, bangsa dimana rasul lahir dan tumbuh menjadi seorang pemimpin, bangsa yang dengan bahasa mereka ayat-ayat Tuhan difirmankan. maka tak seharusnya saya bersikap atau berpendapat seolah-olah Arab tidak mempunyai kontribusi bagi perkembangan Islam di Indonesia. "anda tidak cinta Rasul!" "anda telah mengatakan sesuatu yang anda tidak ketahui tentang umat Muhammad!" begitulah pekik si mahasiswa itu sambil sesenggukan menahan emosi. kelas menjadi ramai. dosen berusaha melerai. dan saya sambil guyon menambahkan....argumen ketiga, bahwa lihatlah warisan budaya Cina di beberapa kantung umat Islam di Indonesia. dan saya menghimbau jangan terlalu mengagung-agungkan arab lah...."apa sih yang diwariskan arab untuk Indonesia? paling martabak sama minyak wangi doang!" begitu seloroh saya sambil bercanda, cengar-cengir menambah suasana semakin ger bercampur haru!

mendengar itu sang mahasiswa semakin sesenggukan dan berulang kali memaki "anda benar-benar tidak cinta Rasul...." kali ini sambil berdiri dan kelas mulai tak terkendali. saya duduk lemes memikirkan "masak iya sih gua nggak cinta Rasul?, gara-gara Prof. Slamet Mulyana ni jadi berabe gua!" tapi masih untunglah, saat itu saya tidak sena'as jama'ah Ahmadiyah saat ini. Semoga semua segera membaik, kita dapat hidup berdampingan saling mencintai satu sama lain. mencintai Tuhan, mencintai Rasul, dan lebih lagi mencintai seluruh umat manusia!



Blog EntryFeb 6, '11 7:08 AM
for everyone
Saya lebih suka menyebutnya demikian. Trio Gontor, yang terdiri dari Umar Idris (FSUI), saya (FSUI) dan Marbawi (FISIP UI). Meskipun pada kenyataannya banyak alumni Gontor, selain kami bertiga, yang melanjutkan sekolah di UI Depok untuk jenjang S1. Dalam angkatan kami (696) misalnya, ada Jerry Ronaldi (FHUI), kemudian adik kelas kami terdapat Irhason (FSUI), RA Idham (FISIP UI), Iswandi Nur (FSUI) dan beberapa nama lainnya. Tapi entah kenapa, lingkungan UI Depok mengasosiasikan “Gontor” dengan nama kami bertiga. Mungkin kami terlalu sering terlihat bersama, di kantin asrama UI, juga pernah bersama menjadi masyhur di suatu kawasan kos-kos an mahasiswa di daerah Material, sebrang halte UI. Mungkin juga karena orang-orang dekat kami sudah cukup mengetahui keanehan (keunikan) kami masing-masing, baik dalam tindak tanduk keseharian maupun dalam aktifitas organisasi kemahasiswaan di kampus. Sembari kami tidak pernah segan-segan mengakui bahwa kami adalah alumni Gontor!

Awalnya adalah Umar Idris, ia terlebih dahulu sampai di UI (1997) bersama Jerry Ronaldi. Lalu datang menyusul saya dan Marbawi pada 1998 masuk UI. Bedanya Marbawi “berani” memilih FISIP UI sementara saya hanya cukup optimis untuk memilih sejarah UI mengikuti Umar Idris. Selain Umar, ada lagi satu orang kawan gontor saya yang turut meyakinkan saya dengan studi sejarah. Ali Amin namanya, saat itu Ali sedang kuliah di IAIN Ciputat. Suatu ketika Ali Amin mengajak saya untuk datang pada acara dies natalis HMI Ciputat. Disana, Cak Nur (Nurcholis Madjid) juga menjadi pembicara utama. Saya menyimak dengan baik ulasan sejarah cak Nur. Terpukau dibuatnya. Hingga Ali Amin berbisik bahwa Cak Nur juga kuliah pada jurusan Sejarah Fakultas Adab di IAIN Ciputat.   

Selain itu, angka-angka yang saya capai selama mengikuti intensif untuk persiapan UMPTN di Nurul Fikri selalu menunjukkan bahwa saya hanya sanggup menembus Sejarah atau Antropologi di kampus UI. Maklum saya saat itu sudah cukup bosan untuk belajar secara formal menelaah pelajaran-pelajaran SMA. Dan saat itu juga saya termasuk terlambat untuk mengikuti UMPTN, tahun itu adalah kesempatan terakhir saya untuk mengikuti UMPTN mengingat ijazah ekstranei Aliyah saya telah tercetak dua tahun sebelum nya. Mau tak mau. Sejarah adalah pilihan saya. Untuk masuk UI atau tidak sama sekali!

Agustus 1998, saya telah bersiap untuk masuk UI. Tanpa banyak persiapan, saya segera memasuki dunia kampus yang sama sekali baru bagi saya. Hampir nggak percaya rasanya dan sedikit bangga karena saya berhasil menjawab tantangan ayah saya yang lebih suka saya berkuliah di kampus umum daripa berangkat meneruskan studi Islam di Kairo.

Di fakultas sastra saya bertemu dengan ratusan mahasiswa baru, yang masih terlihat belia, gaul, anak-anak SMA Jakarta yang latar belakangnya mungkin sama sekali berbeda dengan saya, Umar atau Marbawi, lulusan pesantren, mantan guru-guru mu’allimin yang mungkin sudah lebih dewasa, dan muka terlihat boros! Bahkan kawan-kawan saya sering melempar joke bahwa Marbawi yang selalu tampil rapih lebih mirip pegawai administrasi asrama UI daripada seorang mahasiswa! Sementara Umar saat itu telah mempunyai reputasi sebagai mahasiswa islam yang disegani meski kerap menjadi bahan celaan kawan-kawan angkatannya, tapi ia adalah leader bagi kawan-kawannya !

Pada tahun pertama, saya banyak menghabiskan waktu mondar-mandir Parung-Depok, karena harus tetap mengajar di salah satu yayasan pendidikan Islam di Curug Gunung Sindur. Meski demikian, demonstrasi demi demonstrasi tidak pernah saya lewatkan bersama  mahasiswa  UI, atau kelayapan bersama Marbawi dari satu seminar ke seminar yang lainnya. Juga sesekali bermalam di masjid ARH selepas menonton pertunjukan seni di TIM, Cikini Jakarta.

Baru memasuki tahun kedua, saya memutuskan untuk indekos bersama Umar. Lalu bersama Irhason, adik kelas di Gontor yang kemudian menjadi kawan saya seangkatan di kampus sastra. Kami bertiga mengontrak rumah di daerah Material, Srengseng sawah, dan Marbawi kerap datang sebagai penghuni gelap tetap yang turut memperparah suasana. Segera indekos kami menjadin tempat kumpul mahasiswa sejarah, kawan angkatan saya juga kawan-kawan Umar. Mereka semakin mengenal keunikan Umar, keunikan saya yang katanya jarang menggunakan celana dalam (padahal bohong tuh!) juga keunikan Marbawi yang gila menghapal berbagai kata-kata bijak yang entah ia dengar atau pungut dari buku yang mana.

Di kontrakan kami yang pertama itu, kami mulai meretas jalan kami masing-masing. Umar saya bantu untuk menjadi ketua HMJ Sejarah, sehingga saya menjadi wakilnya. Dan dari Umar pula saya belajar banyak hal, terutama untuk hal-hal teknis organisasi kemahasiswaan. Umar sempat mengajak saya ke HMI, tapi saya telah memilih PMII untuk beraktifitas. Sementara Marbawi yang masih mondar-mandir Ciputat-Depok saya tidak tau persis aktif dimana. Tapi rasanya di Ciputat ia punya energi yang cukup besar untuk terlibat dalam berbagai aktifiras termasuk dalam HMI Ciputat atau kelompok studi semacam Formaci. Di Depok, Marbawi pernah mencicipi PMII dan kerap datang ke beberapa diskusi yang diadakan PMII, namun saya segera memberinya saran agar sebaiknya fokus di HMI sebagaimana ia di Ciputat.

Memang kondisi HMI di Depok sedikit berbeda dengan di Ciputat. Namun toh akhirnya Marbawi bisa menjadi ketua umum HMI Depok periode 2002-2003, setahun setelah saya juga sempat menjadi ketua umum PMII Depok 2001-2002. Sementara itu Umar Idris, memang berbeda dengan kami. Karirnya di HMI hanya berhenti pada tingkat komisariat. Dan rasanya ia lebih tertarik untuk aktif dalam suatu lingkaran pemikiran tertentu di lingkungan pergerakan UI yang bergerak dalam bentuk yayasan, daripada terus terlibat dalam intrik organisasi ekstra-universiter seperti PMII atau HMI.

Tahun demi tahun berlalu. Banyak kisah unik dan menarik yang masih terekam dalam ingatan saya, tentang kami bertiga. Tapi tentu tidak mudah untuk dituliskan. Umar lulus tahun 2002 dan segera bekerja dalam suatu yayasan dan lalu kembali kepada jurnalistik, dunia yang ia geluti selama di Gontor dahulu.  Marbawi dan saya lulus entah bersamaan atau tidak? Itu tanda bahwa kami sempat saling tak memberi  kabar satu sama lain. Marbawi terus aktif dalam dunia organisasi kepemudaan sembari bekerja sebagai konsultan riset di suatu media. Sementara saya memilih untuk bekerja professional di bidang museum dan terus menjalankan politik sebagai “p” kecil yang tak pernah saya lepaskan sejak masa kuliah dahulu.

Begitulah Trio Gontor. Ini bukan kisah akhir, karena kami terus berproses dalam jalan kami masing-masing. Kami telah membangun keluarga kecil kami masing-masing. Alhamdalah. Saya selalu mengatakan kepada istri saya, bahwa dua orang itu, adalah salah satu bagian dari kawan terbaik yang mewarnai hidup saya. Maka saya tak pernah melupakan jasa-jasanya. Banyak manfaat yang saya ambil dari persahabatan kami, antara lain keyakinan bahwa kami harus terus menyambung silaturrahmi dalam keadaan apa pun, lalu menjadikan mereka sebagai penyemangat untuk capaian prestasi yang lebih baik dalam karir dan keluarga, lalu yang terutama bagi saya adalah bahwa kami tetap saling menguatkan satu sama lain hingga saat ini.


Blog EntryFeb 6, '11 7:05 AM
for everyone
Pergolakan politik di Kairo Mesir belum terhenti. Hari-hari ini televisi kita  dipenuhi berbagai liputan tentang pergolakan negeri itu. Mesir bukan negeri arab, meski rakyat negeri itu berbahasa arab, sebab wilayahnya masuk dalam belahan benua Afrika. Msaya sendiri pernah bermimpi untuk bersekolah ke Mesir. Konon nilai cumlaude (mumtaz) saya dari pesantren Gontor mampu membawa saya memasuki universitas Al Azhar, Kairo.  Kesempatan itu pun saya peroleh. Tahun 1998 saya mendapatkan jatah waiting-list pertama dari Depag RI untuk sekolah ke negeri piramida itu pada periode keberangkatan September 1999. Tapi kesempatan itu saya abaikan, saya telah nyaman kuliah di UI, disamping orang tua saya rada keberatan jika harus bersekolah ke negeri sebrang.

Beberapa kawan saya bertitel LC (lulusan Cairo) setelah sekolah dari negeri itu, beberapa menyandang MA, beberapa lagi mungkin bertitel doctor kelak kemudian hari. Saya memimpikan Mesir untuk beberapa saat. Dan saya menyarankan beberapa murid saya dahulu untuk melanjutkan sekolah ke negeri itu. Sebut saja namanya Wawan, seorang pemuda Karawang yang sertau saya cukup rajin menuntut ilmu sewaktu menjadi santri saya di Gintung, Balaraja. Pada 2002 pemuda itu berangkat ke Mesir, dan tak lama disana ia berkirim email, ber sms “Ustadz…..saya di tepi sungai Nil….” Waduh, keinginan saya untuk ke Mesir kembali muncul, meski kali ini saya tak ingin belajar. Mungkin saya ingin plesir saja, lalu dari sana ingin menggelandang ke Eropa. Seperti mimpi-mimpi dan bualan kami dahulu di Gontor, setelah mendengar dongeng beberapa kyai dan ustadz-ustadz kami di sana. Sayang, si wawan itu hanya beberapa saat saja di Mesir, tak sempat menamatkan studi dan kembali ke kampung asal.

Lalu Mesir kini kembali dalam pandangan kita. Beberapa waktu belakangan ini, pemerintah RI sibuk mengevakuasi warga RI yang ada disana. Mayoritas atau semuanya adalah para pelajar di Al Azhar, Kairo, dan kebanyakan pula telah berkeluarga dan beranak pinak di sana. Dalam beberapa tayangan, digambarkan beberapa orang tua meratapi keadaan anaknya yang hingga saat ini telah putus kontak dengan mereka semenjak Kairo diguncang oleh para  demonstran.
Dalam tayangan lain, tampak para demonstran anti Presiden Mubarok turun dimana-dimana di berbagai belahan dunia. Para warga Mesir itu dari jauh juga menuntut mundurnya Mubarok, mereka beriring-iringan membawa berbagai poster dengan berbagai tulisan “Irhal  ya Mubarok” atau “ Mubarok Out!” sambil terus meneriakkan yel-yel. Demikian pula situasi di Kairo yang digambarkan oleh beberapa media elektronik tanah air. Demonstrasi terus bergulir, ultimatum demi ultimatum untuk Presiden Mubarok terus dilontarkan. Sementara massa pro Mubarok mulai muncul juga. Bentrok terjadi. Malam lalu saya melihat aparat keamanan Mesir yang mulai ngawur menabrak kumpulan massa demonstran yang tak jemu memenuhi jalan jalan kota Mesir.

Seminggu sudah lewat. Gambaran bagi Kairo adalah chaos. Melihat itu semua. arab-arab yang sedang protes itu, gambaran para tokoh pemimpin oposisi Mesir yang menggunakan bahasa arab itu, siaran al Jazeera yang juga bertubi-tubi menggunakan bahasa aras itu, lha kok saya teringat pada suatu masa pada pemerintahan Presiden Wahid di Indonesia. Saya pikir, diantara semua presiden di Indonesia, cuman Presiden Wahid-lah yang kerap didemo, diteriaki, dan dimaki-maki dengan menggunakan bahasa Arab. Kenapa saya sampai pada kesimpulan itu? ya, karena saya cukup sering mendapati kejadian atau berada dalam suasana seperti itu secara langsung.
Masih ingat di benak kita, pemerintahan Presiden Wahid yang mulanya didukung oleh Poros Tengah, poros kekuatan  islam  dalam parlemen Indonesia, akhirnya juga dijungkalkan oleh poros itu sendiri. Dapat saya katakan, selama pemerintahan beliau yang hanya beberapa belas bulan itu, tiada hari tanpa demonstrasi. Entah di depan istana atau depan gedung parlemen. Nah kejadian, yang saya ingat sampai hari ini adalah ketika saya menyaksikan rombongan demonstrans Partai Keadilan (PK) dengan beberapa ormas Islam lainnya di depan gedung parlemen, yang menyerukan agar DPR segera memakzulkan Presiden Wahid karena antara lain membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Saya dan beberapa sahabat saya dari PMII, menikmati demonstrasi itu dengan berdecak kagum. Apalagi ketika melihat Anis Matta, salah satu pemimpin demosntran memimpin massa meneriakkan yel yel “Khaibar, Khaibar ya Yahud. Jaisyu Muhammad saufa Ya’uuud!” ck ck ck masya Alloh saya merinding mendengar yel yel itu. merinding campur geli. Karena kebencian mereka atau ketidak-setujuan mereka dengan Israel digambarkan dalam yel-yel yang mengingatkan kita kepada peperangan zaman Nabi Muhammad ketika menghadapi kekuatan Yahudi di Khaibar.
Tidak lama kemudian, setelah dikepung sana-sini, dan sudah dipastikan tidak ada lagi angin dukungan buat dirinya. Presiden Wahid meninggalkan istana negara, tidak lama setelah MPR dan parlemen menyatakan pemberhentian dirinya. Aksi massa pendukung Presiden Wahid sudah merebak di Jawa Timur. Dan konon kabarnya pasukan berani mati (PBM) yang siap mendukung sang Presiden sudah bersiap di pinggiran Jakarta. Chaos dan bentrokan antar massa bisa saja terjadi di Jakarta kala itu.

Tapi untungnya Presiden Wahid mencegah para pendukungnya itu sehingga tak terjadi bentrokan berdarah dalam rangka dukung mendukung kekuasaan. Kita boleh saja menyangsikan kengerian para PBM itu, tapi melihat aksi mereka menggulingkan pagar berduri lalu menginjak-nginjaknya dengan kaki telanjang di depan gedung parlemen, tentu saja saya membayangkan dengan mudah PBM melumat ormas-ormas islam dan PK yang meneriakkan “Khaibar Khaibar ya Yahud!” itu. Setelah itu niscaya yel yel akan berubah “DPR DPR ya Yahud! Jaisyu Gus Dur saufa Ya’uuud!”. Untungnya, hal celaka itu tak pernah terjadi. Dan Mesir, semoga lekas mendapatkan jalan baru yang terbaik buat bangsa dan negara sahabat kita itu. Dengan atau tanpa Mubarok, Mesir harus mendapatkan jalan yang terbaik! Amin.

Blog EntryApr 13, '10 9:52 AM
for everyone

Mendiang  Pak Dur (almarhum KH Abdurrahman Wahid) pernah melempar joke yang serius. Di Indonesia cuman ada dua polisi jujur (yang baik), yaitu Polisi Tidur dan Polisi Hoegeng. Mendengar joke itu orang cuman bisa mesem (tersenyum), entah membenarkan atau membetulkan? Lha sama saja toh? Dan saya pribadi menambahkan, jelas kedua polisi itu selain baik juga menyusahkan tentunya. Bayangkan Polisi Tidur itu dalam kondisi tertentu bikin pantat kita sakit jika pengendaranya kurang memposisikan laju kendaraan dengan baik, lalu tukang ojeg yang saya tumpangi juga ngomel “polisi tidur ni bikin kampas rem motor saya cepat aus!”. Demikian halnya dengan Polisi Hoegeng, banyak kita mendengarkan bahwa kebaikannya kerap menyusahkan orang, susah dalam tanda petik. Putranya bercerita pernah susah dapat motor idaman karena keras-nya kejujuran sang ayah, pengusaha importir mobil kolega keluarga C juga dibikin susah bisnisnya. Bahkan, ketika nama beliau mulai kembali terngiang dua tahun yang lalu, seorang pensiunam jenderal mengatakan kepada saya “gimana dik pendapat anda tentang Hoegeng, kalau menurut saya kok ora umum yo, gimana pendapat anda dik?” saya tak bisa menjawab, cuman cengar-cengir saja.

Bicara Polisi yang ora umum, bicara Polisi yang baik, bolehkah saya menambahkan Polisi Susno sebagai polisi yang ora umum atau polisi yang baik? Wah tentu banyak yang berdebat tentang hal ini, karena kisah jenderal kancil ini belum usai. Untuk memberi penilaian final tentang Polisi Susno mungkin belum saatnya, karena ia masih berproses belum usai.  Maka untuk selamatnya saya ingin mengatakan “ada tiga polisi yang cukup dikenal oleh masyarakat hingga saat ini, yaitu Polisi Tidur, Polisi Hoegeng, dan….Polisi Susno!”. Bukan berlebihan, sudah hampir setengah tahun Polisi Susno menarik perhatian kita semua. 

Pertama pak komjen yang mirip bintang film Hongkong ini, melontarkan tamsil Cicak vs Buaya, yang sontak menjadi populer dalam perbincangan kita. Lalu ia menangis tersedu di hadapan DPR bersumpah bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus Century, kasus yang membuatnya harus turun dari posisi Kabareskrim. Setelah itu ia sekonyong-konyong datang untuk bersaksi dalam mega-kasus mantan ketua KPK Antasari Azhar yang membuat berang jajaran mabes Polri. Belum kering dengan kasus itu yang paling mutakhir umpan bola Polisi Susno --tentang skandal kasus pajak dan adanya markus di tubuh Polri--  (mengutip salah satu media cetak) telah berhasil membuat kemelut di muka gawang! Rentetan kisah itulah yang membuat wajah Susno akrab menghiasi kaca televisi  kita.  Lalu tadi malam saya lagi-lagi membaca tentang Susno di salah satu surat kabar elektronik Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal (Komjen) Susno Duadji ditangkap Divisi Propam Mabes Polri. Susno ditangkap saat berada di Bandara Soekarno Hatta. Saya pastikan itu benar, dia ditangkap di Bandara," kata pengacara Susno, Henry Yosodiningrat, saat dihubungi, Senin 12 April 2010. "Saat ini dibawa ke Mabes Polri."  

Kita boleh berdebat apakah Polisi Susno polisi baik atau bukan, polisi jujur atau tidak? Terlepas dari itu semua setidaknya seperti Polisi  Hoegeng, Polisi Susno adalah polisi yang ora umum, polisi yang tidak umum.  Ini adalah awal kisah yang baik tentunya…..   


Blog EntryApr 11, '10 10:49 PM
for everyone

Saya selalu mengibaratkan seseorang yang dipanggil oleh Tuhan mendahului kita dengan sebutan “apel Tuhan”. Dari mana asal muasal tamsil itu saya peroleh? Adalah kyai saya, Kyai Hasan Abdullah Sahal yang pernah mewejangkan itu kepada kami, para santri Gontor.  Dekade yang lalu, awal 90-an, ketika saya masih nyantri di Gontor, di saat-saat maut atau ajal menjemput salah seorang dari kami, santri pondok atau keluarga pondok, kami melepasnya dengan haru.  Suasana pondok pesantren biasanya mendadak menjadi terasa sunyi, larut dalam duka, hati pilu menerawang sang janazah dalam ambulans yang berjalan perlahan meninggalkan komplek pesantren. Atau terkadang kami beramai dengan sedih memakamkan janazah di komplek pemakaman pesantren.  Berkali-kali itu saya rasakan. Dan suatu ketika, dalam acara pelepasan janazah salah seorang santri, pak kyai Hasan berkata “Kita semua adalah apel-apel dalam keranjang Tuhan, siapa diantara kita yang terbaik, yang termolek, tentu akan mempesona Tuhan. Maka mungkin saja Ia akan memungutnya dari keranjang itu, Ia letakkan dalam genggamannya, Ia rengkuh di pangkuan Nya. Para almarhum, orang-orang mati yang  mendahului kita itu adalah apel-apel Tuhan yang terbaik, termolek, tercantik. Dan kita yang tersisa, yang tertinggal dalam keranjang kehidupan ini harus senantiasa menuju kebaikan itu, agar kelak Tuhan memungut kita dalam keadaan yang terbaik….” Wejangan sore itu selalu terngiang dalam hati saya. Beberapa sahabat yang kehilangan orang-orang terdekatnya, selalu saya sampaikan kepada mereka wejangan itu. Dan saat ini kita kehilangan Bilqis. Entah siapa ia si bayi mungil itu, rasanya tak penting lagi bagi kita. Karena ia mampu memberi kita kesadaran bahwa hidup teramat berharga untuk diperjuangkan. Menjadi Khalifah Tuhan (representasi Tuhan di muka bumi) adalah anugerah. Maka pergunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya. Bilqis mengajari  kita, pun kita seorang Khalifah, ternyata Tuhan jualah yang akan mempergunakan kita. Panjang pendek kesempatan itu, Ia telah mempunyai ukurannya, Ia telah mempunyai rencana akan menggunakan kita sebagai apa? Peringatan atau hikmah yang dapat digunakan oleh insan yang lainnya. Bilqis mengajari kita, hadapilah kematian dengan senyuman, karena ketika mati itu tiba artinya, kita telah menjadi apel yang terpilih, dan pastikan kita adalah apel terbaik, apel tercantik yang Ia pungut untuk diletakkan ke tempat yang lebih mulia. Seperti Bilqis……..          


Blog EntryApr 9, '10 10:15 AM
for everyone

Hari-hari ini perhatian kita tertuju kepada Gayus, seorang pegawai negeri sipil  di lingkungan lembaga pajak Negara, usia masih relative muda, 32 tahun, mengabdi baru lima tahun, beristri satu, anak  tiga, dan diikuti dengan kepemilikan rumah mewah, apartemen juga ada, serta sejumlah uang dalam rekening yang baru diketahui  sebesar 28 milyar! Lumayan fantastis untuk nilai uang tabungan seorang pegawai Negara sipil. Saya berpikir  nakal, wah pantas saja, semua berbondong ingin jadi pegawai negeri sipil, abdi Negara yang mungkin juga mempunyai peluang  nasib yang sama dengan si Gayus ini. Tentu saja  pikiran nakal saya itu keliru, sangat keliru.  Karena pada kenyataannya, tidak semua pegawai negeri bisa menjadi Gayus, tidak semua pegawai pajak kita seperti Gayus, tidak semua lulusan STAN bermental dan berambisi seperti Gayus. Gayus adalah pengecualian, meski kita yakin, haqqul yakin, bahwa tentunya di Negara ini juga banyak pengecualian-pengecualian yang lain, Gayus-gayus yang lain, entah lebih kecil atau bahkan lebih besar! Seperti satire yang diucapkan pak Polisi bernama Susno Duadji, “Gayus baru kuku-nya saja, masih banyak yang lebih besar!” waw!

“muda kaya, tua berfoya-foya, mati masuk surga”. Begitu kerap ditulis dengan nakal pada kaos kaos oblong dagadu atau kaos emperan kaki lima lainnya. Kelihatannya kalimat itu hanya sebatas ungkapan humor yang pas, pas dengan keinginan bawah sadar kita. Siapa yang tak mau menjadi kaya? Orang tua mana yang tak bangga jika putranya suskes mengangkat derajat ekonomi keluarga? dalam tempo yang sesingkat-singkatnya menjadi kaya, menjadi sukses adalah impian semua orang? hingga bagaimana caranya kita tak lagi begitu mempedulikannya. Terlalu banyak “rahasia umum” di negeri ini yang seharusnya kita lawan, yang seharusnya tak lagi menjadi rahasia karena perilaku yang sungguh tak umum itu. tapi kita, budaya kita, berdamai dengan hal-hal yang seharusnya tak umum itu. Norma agama? hei minggir dulu. Rasa malu? Itu bukan nomor satu.  Yang penting kaya dulu, surga akan datang padamu……. Itu lah mungkin keinginan bawah sadar kita. Benci tapi rindu, meski sesat  tapi  jelas nikmat…….hah. Mari kita lawan segala keburukan dalam diri kita.


Blog EntryMar 13, '10 1:21 PM
for everyone

Berbicara tentang jenggot, saya jadi ingat kisah ini. Dahulu sewaktu SMP saya diminta untuk menasehati seorang saudara sepupu yang tiba-tiba mengubah penampilannya menjadi berjenggot. lebat sekali. Fenomena ini dalam keluarga besar saya terlihat canggung. Keluarga saya adalah keluarga abangan, bau-bau santri sedikit, tapi lebih dominan abangan. Melihat perubahan pada penampilan putranya yang dianggap tidak wajar itu, maka sang ibu (budhe) datang ke rumah meminta nasehat. “gimana ini kok jadi melihara jenggot?bilang aja sama mas mu sholat ya sholat, tapi nggak usah pake jengot-jenggotan, bilangin ya budhe jadi khawatir dan sedih….jangan-jangan ada yang salah”. Kisah ini adalah kisah 80-an dan awal 90-an dimana Islam tak sejaya sekarang, Islam masih menjadi isu minor, waktu itu belum ada ustadz berjenggot ramai menghiasi tv tv kita. Sistem syare’ah belum menjadi primadona. Orang berjilbab masih jarang, berjenggot juga jarang, orang Islam belum berani berkespresi seperti saat ini. demikian konteks dari kisah ini. maka menanggapi permintaan sang budhe, saya dan ayahanda saya maen ke rumah budhe dan menemui si mas yang mulai berjenggot tadi. Lalu kami ngobrol panjang lebar dan mengutarakan keberatan ibundanya  melihat penampilan  baru putranya itu.  saya katakan, bahwa sang ibu senang dan bahagia dengan perkembangan keimanan putranya itu, tapi tanpa jenggot. Munkin karena jenggot ini  berbau “tradisi luar” bagi orang Jawa jadi sang Ibu yang Jawa itu kurang sreg menerimanya. Seperti biasa orang Jawa dari dahulu tidak pernah menerima sesuatu yang baru dari luar dirinya secara penuh. Islam diterima tapi sembahyang (bukan sholat) dan bakar kemenyan jalan terus. Sholat, puasa dan zakat diterima tapi tanpa jenggot. Lalu di akhir pembicaraan saya katakan “hayo mas pilih mana, melihara jenggot mengikuti sunnah Rasul dapat pahala, tapi bikin ibu sedih, nggak redho, dan nggak ikhlas. Padahal membahagiakan ibu adalah salah satu ajaran penting Tuhan Allah dan rasul Muhammad. Maka membuat ibu tidak bahagia sama halnya tidak mentaati ajaran Allah dan rasul Muhammad. Hayo pilih mana mas?” rupanya ujaran saya itu mujarab. Mas tadi menuruti kemauan ibunya, tidak lagi memelihara jenggot. Setelah sekian lama saya masih ingat kisah itu. membekas sekali dalam ingatan. Terkadang  saya geli kalu mengingatnya. Andai saja mas itu sedikit pintar, niscaya akan menjawab omongan saya, mungkin dengan berseloroh “halah dik, cuman jenggot aja lho kok repot, sunan sunan aja juga pake jenggot dan tetap menjadi Jawa!” dan mungkin jika pembicaraan itu terjadi hari ini saya akan mengatakan ”sudah mas pake aja jenggotnya terus, jangan takut dibilang teroris lha wong Karl Max aja juga berjenggot!” hahaha.   




Blog EntryMar 13, '10 12:54 PM
for everyone

Jenggot. Apakah  ada yang salah dengan jenggot? Saya muslim dan saya tidak berjenggot. Bukan karena benci jenggot, bukan karena tak mau mengikuti contoh Rasul Muhammad yang menurut riwayatnya, beliau berjenggot. Saya tak berjenggot karena satu alasan, mungkin saya merasa belum pantas berjenggot. Saya masih pingin gaul, pingin kelihatan menarik, biar nggak ganteng yang penting saya pingin terlihat enak dipandang. Dan “enak dipandang” itu saya rasa bisa saya peroleh jika saya tidak berjenggot. Bayangkan saudaraku, saya lelaki dengan tinggi badan nyaris 160 cm! dan berat badan 90kg lebih dikit….kulit saya langsat, hitam-cokelat yang langsat, roman saya beraura negative kata sebagain orang, mengingat “kebetulan” mata saya tidak berukuran sama. Betapa negative-nya aura saya yang jarang senyum pada pandangan pertama ini. Lalu jika saya berjenggot….aduh pasti tak menarik sekali, tak sedap dipandang!tak enak dipandang! Sudah pendek item jenggotan pula. Nah, berdasarkan modal diri macam itu, saya sejak di pesantren dahulu, memutuskan untuk tak berjenggot juga berkumis. Cukup begini saja tampang saya, biar kelihatan bersih dan indah untuk dipandang. Bukankah Tuhan Allah yang maha Indah (Jamiil) juga menyukai sesuatu yang indah (Jamaal). Lalu secara demokratis rasa dan ukuran keindahan itu diserahkan kepada umatnya masing-masing, sesuai dengan latar belakang geografis, pengalaman, tata nilai masyarakat yang membentuknya untuk dapat mengatakan “indah” itu.

Saya berimajinasi bahwa, Rasul Muhammad adalah sesosok pria yang tampan, badannya proporsional (ukuran bangsa Arab), bahkan konon tampannya nabi Jusuf yang sohor itu juga masih keok oleh Rasul Muhammad. Dalam pengajian di surau-surau para ustadz sering mengatakan bahwa tampannya  Rasul Muhammad itu ibaratnya adalah separoh dari keindahan rembulan, lalu yang separoh lagi dibagikan untuk keindahan umat manusia sedunia, termasuk nabi Jusuf yang tampan itu…..Nah, tampannya Rasul Muhammad itu mungkin lengkap dan semakin sempurna dengan jenggot yang beliau pelihara. Lalu saya menengok ke orang Arab saat ini. Badannya tinggi besar nan gagah, rahangnya kokoh, mukanya luas, cocok ditumbuhi jenggot dibagian janggutnya….cocok sekali. Indah sekali. Enak dipandang. Tapi itu mereka orang Arab…..bukan saya. Pikir punya pikir, jazirah arab juga bukan daerah tropis yang lembab. Jaziran arab adalah tanah yang kering, suhu panas dan dinginnya ekstrim, jadi setiap rambut yang tumbuh rimbun tak akan terkena serangan aroma apek atau ketombe sebagaimana kumpulan rambut di daerah tropis. Jadi sah-sah saja dan mungkin saja memlihara jenggot dalam kondisi seperti itu menjadi enak dan nyaman. Tapi tidak saya, dengan postur yang bantat ini, dan iklim tropis yang saya tinggali ini.

Namun demikian, banyak orang Indonesia berjenggot. Ada yang berjenggot karena mode, karena yang jenggot itu adalah anak metal, band underground yang bermusik ekstrim dan berpenampilan ekstrim pula. Ada juga yang  berjenggot karena dengan tulus ingin mengikuti sunnah nabi, sunnah Rasul Muhammad. Saya sangat salut dengan orang-orang ini. Sanggup mengikuti  dan meneladani sosok nabi hingga ke jenggot-jenggotnya. Mereka tidak sepertiku, tak menghiraukan iklim tropis, tak menghiraukan penampilan enak atau tak enak dipandang, mereka tak menggubris itu. Sosok nabi yang mereka teladani. Kalau lah belum sempurna mengikuti sunnah-sunnahnya yang lain, paling nggak jenggot Rasul Muhammad-lah yang mereka  teladani. Dari hal kecil seperti jenggot dulu lah mereka meneladani lalu berharap meneladani hal-hal yang lebih besar lagi, seperti kebijaksanaan, kasih sayang dan kesabaran Rasul Muhammad. Saya mengerti itu, mengerti sekali.  Bahkan ayahanda saya pun sekarang juga berjenggot lebat!

Sementara itu munculnya berbagai tindak terorisme di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia saat ini mulai memunculkan banyak stigma negative terhadap umat Islam. Mengingat, teroris itu menyatakan bahawa tindakannya dilakukan atas nama agama Islam. Sejak saat itu muncul stigma negative atas umat Islam dan segala sosok penampilan serta tindak tanduknya  dicurigai, diawasi secara lebih ketat, diperlakukan lebih khusus. Bukan hal yang aneh jika kita memasuki bandara, area public seperti mall mulai diikuti pengawasan yang ketat, dan sorot pandang petugas akan segera ekstra tertuju pada orang-orang yang kelihatan berpenampilan fanatic, seperti halnya berjenggot itu. Jenggot lalu menjadi identitas Islam yang fanatic, dan jenggot adalah salah satu atribut teroris!

Kenapa saya tiba2 menulis jenggot ? Hari ini saya membaca berita di kompas.com yang menuliskan   “Fauzi Syarief, yang ditengarai ikut berperan dalam kasus terorisme di Pamulang, sempat mencukur janggotnya di Puskesmas Karang Tengah, Ciledug”.  Oh kasian, kau jenggot gara-gara ulah teroris, kau juga turut terciderai dianggap symbol dari terorisme. Itu bahkan Fauzi pun sampai susah payah harus mencukur jenggotnya, mungkin dengan harapan, agar tak terendus sebagai teroris, atau terlibat dalam terorisme. Dalam situasi ini Andai  saya berjenggot, saya tak akan mencukur jenggot saya, diilhami oleh film “My name is Khan” saya akan mengatakan kepada dunia, mengatakan kepada tetangga saya yang mulai anti kepada jenggot, mengabarkan kepada polisi yang mungkin semakin waspada kepada jenggot, mengatakan “saya berjenggot tapi saya bukan teroris!”  


NoteGuestbook
   
fuzzserenity wrote on Sep 24, '11
bakulilmu wrote on Aug 15, '08
hahahahaha
tks yus...
gua memang rada penggila masa lalu...
yuslieffendi wrote on Aug 14, '08
Wah, aku beberapa kali liat foto2 Gontor dan masa kecil - dewasa ente, so nostalgic...
yuslieffendi wrote on Aug 13, '08
Ane udah invite, tolong diapprove yo :) Suwun
yuslieffendi wrote on Aug 11, '08
Gimana rasanya menikah, Wien? Udah ketemu tulang rusuk yang ilang?:)
alfannynu wrote on Dec 15, '07
"lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". Kunjungi www.alfannymovement.blogspot.com dan www.alfannynu.multiply.com
kulinerkita wrote on Dec 12, '07

Selengkapnya,
silahkan KlikDisini.
patriagintings wrote on May 21, '07
Kabar baik2 bos. Ya mohon doa aja lah hehehehe. Ngomong2 contact request gw d approve dong.....
bakulilmu wrote on May 16, '07
hahaha gintings pa kabar?
bisa aja lu......baik2 di negeri orang Bos! lu harus bisa bermanfaat buat orang banyak di masa depan! hahahahaha
gud lak!
patriagintings wrote on May 15, '07
Aduh ampun beribu ampun gusti. Blognya hebat euy, masih menjunjung tinggi karya akademis dengan catatan kaki sebagai pelengkap tulisan yang dasyat (gmn caranya Wien pk footnote?)

Hamba jadi malu karena penggunaan multiply hamba hanya untuk memperlihatkan pigura2 kegembiraan duniawi belaka.

Ampun beribu ampun!!!!!!!!!!!!!

Mohon topangan tangan dan bimbingan agar hamba kembali ke jalan akademis yang benar, sebenar-benarnya........
Pages:1234